Header Ads

 







Istighotsah Rutin Bulanan & Majelis Ta'lim JATMAN Jawa Timur

Surabaya ,14 Februari 2026-Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian cepat, hadir sebuah momen spiritual yang membawa kita kembali pada ketenangan hakiki. Sebagaimana yang terpancar dalam gelaran Istighotsah dan Majelis Ta'lim yang diselenggarakan oleh Idarah Wustho JATMAN (Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah) Jawa Timur di Kantor JATMAN JATIM . Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan sebuah oase spiritual yang memadukan antara zikir kolektif, lantunan selawat yang menggetarkan jiwa, hingga siraman ilmu tasawuf yang mendalam.

Dalam majelis yang penuh berkah ini, kita diajak untuk sejenak berhenti dari rutinitas dan menyelami makna keikhlasan serta pentingnya bertarekat di era modern. Seperti yang disampaikan dalam tausiyah, esensi dari pertemuan ini adalah untuk memperkuat hablun minallah melalui istighotsah dan hablun minannas melalui silaturahmi antar-jamaah . Mari kita bedah lebih dalam saripati ilmu dan keberkahan yang mengalir dari majelis ini, sebagai bekal kita dalam menata hati dan meraih rida Illahi.

Pembukaan & Kalam Iftitah

Acara dibuka dengan khidmat oleh K.H.Moh Rowi, M.Si., Sekretaris Idarah Wustha JATMAN JATIM, Ssuasana tenang mulai menyelimuti ruangan saat untaian doa dan kata pembuka disampaikan, mengarahkan niat seluruh hadirin semata-mata untuk menggapai Ridha Allah SWT.

Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an Dan Sholawat Thoriqiyah

Acara dibuka dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menyejukkan hati. Tak lama berselang, gema sholawat Thoriqiyah membumbung tinggi, membawa suasana batin seluruh jemaah masuk ke dalam ruang kontemplasi dan mahabbah kepada Rasulullah SAW. Zikir ini menjadi fondasi awal sebelum memasuki inti acara, menciptakan frekuensi spiritual yang sama di antara para hadirin

Menyanyikan Lagu Indonesia Raya

Sebagai wujud komitmen Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta tanah air sebagian dari iman), seluruh hadirin diminta berdiri tegak dengan sikap sempurna. Di bawah panduan yang dipimpin oleh petugas, lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan dengan penuh khidmat. Momen ini mengingatkan kita bahwa tugas seorang mukmin tidak hanya berzikir di atas sajadah, tetapi juga mencintai dan menjaga tanah airnya .

Mars Syubbanul Wathon (Ya Lal Wathon)

Semangat jemaah semakin terbakar saat Mars Syubbanul Wathon berkumandang. Lagu gubahan KH Wahab Chasbullah ini menggema, membangkitkan semangat pemuda dan seluruh elemen Nahdliyin untuk bangkit mempertahankan martabat bangsa dan agama. "Pusaka hati wahai tanah airku..." menjadi lirik yang menggetarkan jiwa di tengah majelis tersebut [08:42].

 Istighotsah

Dipimpin langsung oleh Drs. K.H. Abdul Mutholib dari Idarah Wustha JATMAN JATIM , sesi Istighotsah menjadi sarana bermunajat bersama. Lantunan dzikir yang kompak diharapkan mampu membawa keberkahan bagi organisasi dan kedamaian bagi bangsa.

Mauidhoh Hasanah Oleh: K.H. Ahmad Hasan, M.Pd.I.

Dalam ceramahnya yang menyejukkan, K.H. Ahmad Hasan menyampaikan beberapa poin penting mengenai persiapan batiniah bagi setiap muslim, terutama dalam menghadapi bulan suci Ramadan. Berikut adalah poin penting  yang beliau sampaikan.

Puasa sebagai Pengendali "Pabrik" Maksiat

Jika shalat difungsikan untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar secara lahiriah [38:30], maka puasa memiliki tingkatan yang lebih mendalam. Puasa bertujuan untuk mengendalikan pusat atau "pabrik" dari kemaksiatan, yaitu syahwat dan hawa nafsu.

Menurut Imam Ghazali, diri manusia itu ibarat sebuah kerajaan (mamlakah):

Hati adalah Rajanya.

Akal adalah Perdana Mentrinya.

Syahwat dan Ghadab (Emosi) adalah jajaran kabinetnya.

Syahwat (keinginan) dan Ghadab (amarah) sebenarnya diciptakan Allah bukan tanpa manfaat. Syahwat makan dan minum diperlukan untuk membangun energi jasmani agar kuat beribadah. Namun, syahwat ini seringkali menjadi liar jika tidak dipimpin oleh Akal dan Hati.

Mengenali Alarm Tubuh

Allah SWT telah memberikan "alarm" alami agar kita tidak berlebihan dalam menuruti syahwat. Contohnya adalah sendawa (glegekan) sebagai tanda bahwa perut sudah cukup terisi. Rasulullah SAW mengajarkan pembagian lambung menjadi tiga bagian: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Puasa melatih kita untuk kembali disiplin pada aturan ini.

Mengelola Potensi Diri Menjadi Akhlakul Karimah

Setiap potensi dalam diri manusia, jika dikelola dengan baik, akan melahirkan akhlak yang mulia:

Akal yang dikelola dengan baik akan melahirkan Hikmah (kebijaksanaan).

Syahwat yang dikelola dengan benar akan melahirkan sifat Al-Jud atau kedermawanan. Seseorang merasa bahagia saat memberi, bukan hanya saat menerima.Ghadab (emosi) yang diarahkan untuk membela kebenaran akan menjadi sifat Syaja’ah (keberanian).

Menuju Nafsu Mutmainnah

Tujuan akhir dari ibadah puasa kita adalah menaikkan derajat nafsu kita. Dari Nafsu Ammarah (yang selalu mengajak pada keburukan) atau Nafsu Lawwamah, menuju Nafsu Mutmainnah—jiwa yang tenang karena selalu dipimpin oleh hati yang berdzikir kepada Allah .

Doa Menuju Ramadhan

Menutup ceramahnya beliau mengajak kita untuk mendawamkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW:

"Allahumma kama ballaghta Sya’ban, ballighna Ramadhan..."

Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menyampaikan kami pada bulan Sya'ban, sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan. Catatlah kami sebagai golongan orang yang mampu berpuasa dan menghidupkan malamnya dengan ibadah, hingga kami meraih ampunan dan surga-Mu.

" Semoga Ramadhan tahun ini tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi benar-benar menjadi sarana "imsak" atau menahan diri dari segala hal yang menjauhkan kita dari Allah SWT " ujar beliau .

Pengarahan Strategis K.H. Fathul Huda,Ro'is Idarah Wustho JATMAN JATIM

Pentingnya Keikhlasan dan Azam dalam Berorganisasi

Dalam pertemuan penuh berkah yang dihadiri oleh para kiai, pengurus JATMAN (Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah) dari berbagai daerah seperti Trenggalek dan Situbondo, Rais Idarah Wustho JATMAN Jawa Timur, K.H. Fathul Huda, menyampaikan pesan mendalam mengenai fondasi spiritual dalam menjalankan amanah organisasi.

Berikut adalah poin-poin utama pengarahan beliau:

Meniru Jejak Pemimpin Besar

Kiai Fathul Huda menekankan pentingnya meneladani pemimpin besar seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Harun Ar-Rasyid. Kunci kesuksesan kepemimpinan mereka adalah kedekatan dengan para ulama. Beliau menyatakan bahwa mengundang para kiai bukan sekadar seremoni, melainkan untuk dua hal utama:

Memohon Nasihat : Agar amanah organisasi dijalankan sesuai koridor yang benar.

Memohon Doa : Karena doa adalah kunci kesuksesan yang mampu melampaui batas rasionalitas dan teori manusia.

Ikhlas Energi dalam Beramal

Mengutip Ibnu 'Athaillah as-Sakandari, beliau mengingatkan bahwa amal tanpa keikhlasan ibarat raga tanpa nyawa. "Amal itu adalah kerangka yang berdiri tegak, sedangkan ruhnya adalah adanya rahasia ikhlas di dalamnya," tutur beliau.

Beliau menjabarkan tiga ciri utama orang yang ikhlas sebagai bahan evaluasi diri:

Tetap Teguh meski Dicaci atau Dipuji: Tidak sakit hati saat dikritik, dan tidak besar kepala saat dipuji.

Merahasiakan Kebaikan: Berusaha melakukan yang terbaik meski tanpa penglihatan orang lain.

Melupakan Amal: Jangan pernah merasa memiliki amal. Selalu merasa bahwa apa yang dilakukan belum cukup sehingga terus memohon ampun (istighfar) kepada Allah.

Membangun Azam dan "Jalan Langit"

Selain ikhlas, seorang pejuang organisasi harus memiliki Azam (kemauan yang kuat). Beliau mendorong para pengurus JATMAN untuk berani memimpikan kemajuan besar, seperti visi memiliki kantor yang representatif sebagai pusat dakwah .

Beliau berpesan agar JATMAN tidak lagi menjadi organisasi yang mastur (tersembunyi), tetapi harus masyhur (dikenal luas) manfaatnya agar dakwah Thariqah lebih efektif di masyarakat.

Menuju Kualitas "Wali": Lapang Dada dan Positif

Program unggulan JATMAN ke depan bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan peningkatan kualitas spiritual para salikin (pengamal thariqah). Resep untuk mencapai derajat mulia di sisi Allah adalah:

Sifat dermawan (al-karom).

Rendah hati (at-tawadhu).

Lapang Dada (salamatus shodri): Tidak saling iri antar sesama thariqah dan selalu memandang positif setiap keadaan .

Kesimpulan

Pengarahan K.H. Fathul Huda ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa berorganisasi di bawah naungan Nahdlatul Ulama, khususnya JATMAN, adalah sarana untuk memperbaiki hati. Semoga kita diberikan kekuatan untuk menjadi pribadi yang mukhlis (ikhlas) dalam berjuang.

 Diskusi & Tanya Jawab

Sesi tanya jawab dan ramah tamah ini dimoderasi langsung oleh K.H. Ma'shum Maulani, M.Pd., dengan gaya beliau yang khas perpaduan antara humor yang menyegarkan dan kedalaman ilmu tasawuf menjadikan sesi ini menjadi oase bagi para salik yang sedang meniti jalan menuju ridha Allah SWT.

Dalam sesi tersebut, K.H. Ma'shum Maulani mengawal jalannya dialog yang menyentuh beberapa poin krusial bagi kehidupan berorganisasi dan beragama antara lain :

Program Unggulan: Mengenalkan Jatman ke Masyarakat Luas

Menjawab kegelisahan jamaah mengenai peran tarekat di masa kini, ditekankan bahwa program utama saat ini adalah "mengenalkan Jatman di semua lapisan masyarakat." Beliau mengingatkan bahwa meskipun jumlah jamaah sangat besar, Jatman seringkali masih bersifat mastur (tertutup/tidak menonjol). Kedepannya, melalui simbol seperti pembangunan kantor yang representatif, Jatman diharapkan lebih dzahir agar nilai-nilai ihsan bisa lebih mewarnai bangsa ini .

Syarat Menjadi Anggota: Niat dan Istiqomah

Bagi masyarakat umum, khususnya warga Nahdliyin yang ingin bergabung, syarat utamanya adalah kesiapan lahir batin untuk dibimbing. Di tengah zaman yang penuh fitnah, bergabung dengan Jatman adalah upaya untuk memastikan kita kembali kepada Allah dalam keadaan husnul khotimah melalui bimbingan para Mursyid .

Pentingnya Ikhlas dan Azam (Kemauan Kuat)

K.H. Ma'shum Maulani bersama K.H. Fathul Huda menekankan bahwa kunci sukses dalam beramal baik ibadah mahdhoh maupun ghairu mahdhoh adalah keikhlasan. Ikhlas bukan berarti tidak dipuji, melainkan tetap konsisten bergerak meskipun dicaci maupun dipuji. Beliau juga mengajak jamaah untuk memiliki azam atau cita-cita besar, karena ucapan yang dilepaskan dengan niat baik adalah pintu datangnya takdir Allah .

Menghadapi "Macan-Macan" Kehidupan

Menariknya, dalam diskusi mengenai wilayah-wilayah yang dianggap "keras" atau penuh tantangan (seperti hutan belantara penuh macan disitubondo ), moderasi beliau menekankan bahwa setiap tantangan bisa dilunakkan dengan akhlak dan doa. Tarekat hadir untuk melembutkan hati yang keras agar menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama .

Penutup dan Doa

Rangkaian acara formal diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Dr. K.H. Kharisuddin Aqib, M.Ag.dan ditutup secara resmi oleh K.H.Moh.Rowi, M.Si. selaku pembawa acara .

Setelah ramah tamah , agenda dilanjutkan dengan  Rapat Pengurus Harian Idarah Wustha JATMAN Jawa Timur untuk membahas program-program kerja yang telah direncanakan antara lian tentang Rihlah Asean, Manaqib Kubro yang Insya Alloh akan dilaksanakan di Al-fatah Temboro, Halal bihalal dan bebrapa program kerja yang lain .

Oleh Al-Faqir : "  Syaiful Munif  " 

Sekretaris Idarah Syu'biyyah JATMAN Banyuwangi,Admin Idarah Wustha JATMAN JATIM


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.