Header Ads

Pengurus Idarah Aliyah Di Jawa Timur Diajak Kyai Temboro untuk Dakwah Shufiyyah Ke ASEAN

 



Surabaya, 17/1/2026-Pengurus Idarah Aliyah JATMAN yang berdomisili di Jawa Timur menggelar halaqah konsolidasi. 29 masyayikh Shufiyyah berkumpul di Kantor PWNU Jatim untuk membahas dinamika organisasi. Selain kilas balik, para pengurus mengkaji agenda-agenda ke depan demi memasyarakatkan thariqah dan menthariqahkan masyarakat.


Al-Mursyid K. H. Ngadiyin Anwar memberikan muqaddimah, “Sejak Konggres Donoyudan, kita harus merasakan perpisahan dengan kawan-kawan. Tahun 1975, dulu JATMI harus mengalami perpisahan seperti kita setahun yang lalu. Lahirlah ketika itu JATMAN ini.” Kyai Ngadiyin meminta 40 pejabat Idarah Aliyah di wilayah Jawa Timur untuk berkonsolidasi melalui majelis pagi ini, 17/1/2026, untuk mengeskalasi progress organisasi.


Al-Mursyid K. H. Fathul Huda mengungkapkan keteladanan Mudir Aly selaku komisaris PLN yang setiap menggelar kegiatan sosial selalu atas nama JATMAN. Jadi JATMAN tidak wujuduhu ka’adamihi, beda dengan yang dulu. “Meski kita sementara ini lebih sibuk dengan normatif tapi itu sudah bagus. Dengan adanya JATMA, kita jadi terpacu. Faktor utamanya ini semua adalah kita modal sendiri. Sudah 7 bulan saya berusaha agar JATMAN punya dana meski saya mustafad. Jangan sampai ada ‘tarik tambang’, saya tidak pernah mengambil uang. Operasional JATMAN Jawa Timur sudah cukup dan mandiri,” papar Kyai Huda.


Kyai Huda menyatakan masih adanya statemen publik bahwa thariqah jangan diajarkan kepada umum. Padahal Malaikat Jibril mengajarkan kepada Nabi komplit: Islam, Iman, Ihsan. Kalau tidak komplit, efek ibadah tidak terasa. Semua thariqah tidak ada yang aneh. Shalawat, Istighfar, Tawassul dan semacamnya. Kesannya thariqah eksklusif sehingga masih mastur. 


“Saya selama jadi pengurus PCNU tidak pernah JATMAN disebut. Di birokrasi juga. Ruhnya bangsa dan NU itu JATMAN. Jalur darat hanya normatif. Jalur langit ada di thariqah. Kalau JATMAN tidak dikenal, maka bagaimana kita bisa menthariqahkan masyarakat. Bukan riya` tapi dakwah,” tutur Kyai Huda.


Menutup sambutan, Yai Huda menyitir firman Allah sebagai dasar kewajiban mendakwahkan thariqah, “Balligh ma unzila ilaika min rabbik. Fa in lam taf’al fa ma ballaghta risalatah…” Sehingga, setelah memaknai ayat tersebut, Yai Huda meminta agar komplit mengajarkan kepada masyarakat sebagaimana diajarkan Malaikat Jibril.


Al-Mursyid K. H. Zainal Arifin Maksum selaku Katib ‘Aly mengutarakan, “JATMAN ini organisasi teraneh di dunia. Pengurus ormas di manapun bisa mengeluarkan anggota. Di JATMAN tidak ada klausul AD/ART yang bisa memecat. Yang menguasai murid itu mursyid. Di JATMAN kita harus bisa menempatkan diri. Hak vetonya di mursyid. Thariqah jangan hanya khumul. Harus kelihatan thariqah itu haq. Haq perlu dinizhamkan. Khawatir dikalahkan barang-barang batil.”


Kyai Zainal juga menyampaikan apresiasi, “Saya baru saja melantik Idarah Wustha Provinsi Lampung berkumpul bersama seluruh Idarah Syu’biyyahnya. Di Malaysia -saat saya berkunjungi ke thariqah di sana- Malaysia ingin seperti JATMAN.” Kyai Zainal menambahkan bahwa semua thariqah di Indonesia dijadikan satu di JATMAN ini fadhilah besar agar tidak ada yang merasa lebih unggul, yang buruk ialah setelah bai’at lalu ditinggalkan. Menurut beliau, semua mursyid selalu mewasiatkan agar mengurus madrasah, masjid, pesantren, zawiyah. Kyai Zainal mengajak bila mana ada mursyid yang munqathi’ harus segera kita sikapi agar mendapatkan sanad.


Acara ta’aruf dan rapat konsolidasi ini berlangsung sangat membahagiakan. Hadir sebagai tamu kehormatan Al-Mursyid K. H. Ubaidillah Ahrar dan Al-Mursyid K. H. Thontowi Jauhari, beserta lima penderek. Gus Bed mengaku senang bisa hadir untuk tabarruk kepada para ahli wirid. Beliau mengaku ada 13 dalil fadhilah ngerawat kuda dalam Al-Qur`an. Beliau punya 300 kuda, keledai, baghal, dan unta sembari nyemak Al-Qur`an setiap sore dari 30 anak dan 4 istri. Ipar beliau, Yai Thontowi mengajak JATMAN kunjungan ke ASEAN, santri temboro siap memfasilitasi ke Malaysia, Singapura, Thailand dan lain-lain. “Pak Muhadjir Muhammadiyah itu masih family dengan saya, kita perlu adakan bedah kitab Tashawwuf di kampus-kampus Muhammadiyah,” usul Yai Thontowi yang menjawab sebagai mustafad JATMAN Idarah Wustha Provinsi Jawa Timur.


Dr. K. H. Kharisuddin Aqib sebagai koordinator wilayah memungkasi aspirasi seluruh Masyayikh dengan prinsip Islam harus kaffah biar berefek, agar tidak selalu mastur, “Kita kerja sama dengan putra Al-Mursyid K. H. Mahmud Kholid Umar di depan ini dengan gerbongnya yang sangat besar, agar bisa ‘menyerang’.” Rapat diakhiri dengan ramah tamah sebagai ‘inti acara’.


Kuli tinta: H. Brilly Y. Will., M.Pd. (anggota LTN Idarah Aliyah JATMAN)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.