Sejarah Tashawwuf Sangat Kuat dalam Tradisi Keberagamaan Generasi Salaf Shalih
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ: ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ اﻟﺼُّﻔَّﺔِ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺭَﺟُﻼً ﻣَﺎ لهم ﺃَﺭْﺩِﻳَﺔٌ
’’Abu Hurairah berkata "Para sahabat ahlus shuffah (yang berada di pelataran Masjid Nabawi) berjumlah 70 orang. Mereka tidak memiliki selendang.’’ [Al-Mustadrak li Al-Hakim]
ﻗَﺎﻝَ اﻟْﺤَﺎﻛِﻢُ: ﺗَﺄَﻣَّﻠْﺖُ ﻫَﺬِﻩِ اﻷَْﺧْﺒَﺎﺭَ اﻟْﻮَاﺭِﺩَﺓَ ﻓِﻲ ﺃَﻫْﻞِ اﻟﺼُّﻔَّﺔِ ﻓَﻮَﺟَﺪْﺗُﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﻛَﺎﺑِﺮِ اﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﻋًﺎ ﻭَﺗَﻮَﻛُّﻼً ﻋَﻠَﻰ اﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻭَﻣُﻼَﺯَﻣَﺔً ﻟِﺨِﺪْﻣَﺔِ اﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
’’Al-Hakim berkata "Setelah saya pikirkan hadits-hadits yang menjelaskan Ahlus Shuffah ternyata saya temukan mereka adalah para sahabat besar, baik wira’iyy (menjauhi hal-hal haram dan syubhat), tawakkal kepada Allah, terus menerus melayani Rasulullah.’’
ﻭَﻫُﻢُ اﻟﻄَّﺎﺋِﻔَﺔُ اﻟْﻤُﻨْﺘَﻤِﻴَﺔُ ﺇِﻟَﻴْﻬُﻢُ اﻟﺼﻮﻓﻴﺔ ﻗَﺮْﻧًﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﻗَﺮْﻥٍ، ﻓَﻤَﻦْ ﺟَﺮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻨَّﺘِﻬِﻢْ ﻭَﺻَﺒْﺮِﻫِﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺗَﺮْﻙِ اﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَاﻷُْﻧْﺲِ ﺑِﺎﻟْﻔَﻘْﺮِ، ﻭَﺗَﺮْﻙِ اﻟﺘَّﻌَﺮُّﺽِ ﻟِﻠﺴُّﺆَاﻝِ ﻓَﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﻋَﺼْﺮٍ ﺑِﺄَﻫْﻞِ اﻟﺼُّﻔَّﺔِ ﻣُﻘْﺘَﺪُﻭﻥَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺧَﺎﻟِﻘِﻬِﻢْ ﻣُﺘَﻮَﻛِّﻠُﻮﻥَ»
’’Mereka ini adalah sekelompok golongan yang orang-orang Shufiyy menisbatkan diri kepada mereka dari masa ke masa. Barangsiapa yang berperilaku seperti ajaran mereka, kesabaran untuk meninggalkan dunia, merasa nikmat dengan kefaqiran dan tidak meminta-minta/mengemis, maka mereka ini adalah pengikut Ahlus Shuffah. Dan mereka bertawakkal kepada Allah.” [Al-Mustadrak li Al-Hakim]
وَقَدْ دُوِّنَتِ الْعُلُومُ الْمَنْقُولَةُ وَسُمِّيَتْ بِأَسْمَاءٍ وَمُصْطَلَحَاتٍ: فَسُمِّيَ مَنِ اشْتَغَلَ بِالْحَدِيثِ الشَّرِيفِ مُحَدِّثًا، وَمَنِ اشْتَغَلَ بِالتَّفْسِيرِ مُفَسِّرًا، وَمَنِ اشْتَغَلَ بِالْفِقْهِ فَقِيهًا، وَمَنِ اشْتَغَلَ بِالتَّرْبِيَةِ وَالسُّلُوكِ فِي طَرِيقِ اللَّهِ صُوفِيًّا
“Dan berbagai ilmu yang dinukil (dari Nabi dan sahabat) telah dikodifikasi dan dinamai dengan berbagai nama dan istilah, maka orang yang mendalami hadits disebut muhaddits, orang yang mendalami tafsir disebut mufassir, orang yang mendalami fiqih disebut faqih, dan orang yang mendalami pendidikan spiritual (tarbiyah) serta perjalanan ruhani (suluk) di jalan Allah disebut shufiyy (ahli tashawwuf).” [Al-Mausu’ah Al-Yusufiyyyah fi Bayan Adillat Ash-Shufiyyah, [Damaskus: Dar Taqwa, 2003], halaman 20].
وَأَوَّلُ مَنْ تُسُمِّيَ بِالصُّوفِيِّ هُوَ أَبُو هَاشِمٍ الَّذِي وُلِدَ فِي الْكُوفَةِ. وَأَنَّ أَوَّلَ مَنْ حَدَّدَ نَظَرِيَّاتِ التَّصَوُّفِ وَشَرَحَهَا هُوَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ، تِلْمِيذُ الْإِمَامِ مَالِكٍ. وَالَّذِي شَرَحَهَا وَبَوَّبَهَا وَنَشَرَهَا هُوَ الْجُنَيْدُ الْبَغْدَادِيُّ
“Orang pertama yang disebut shufiyy adalah Abu Hasyim yang dilahirkan di Kufah. Dan orang pertama yang merumuskan dan menjelaskan teori-teori tashawwuf adalah Dzun Nun Al-Mishriyy, murid Imam Malik. Sedangkan orang yang menjelaskan, menyusun bab-babnya, dan menyebarluaskannya adalah Imam Al-Junaid Al-Baghdadiyy.” [Al-Mausu’ah Al-Yusufiyyyyah fi Bayan Adillat Ash-Shufiyyah, [Damaskus: Dar At-Taqwa, 2003], halaman 23]
Redaktur: H. Brilly Y. Will., M.Pd.
![]() |
| 082140888638 Terjemah Kitab Al-'Ujalah fi Al-Ahadits Al-Musalsalah Syaikh Yasin Padang |


Post a Comment