Header Ads

Hakekat Tashawwuf Bukan Bid'ah Dhalalah Melainkan Seperti Ilmu Tafsir, Hadits, Fiqih, Tarikh, Siyasah dan Lainnya Yakni Bersumber Dari Nabi



Tashawwuf bersumber dari Sunnah Rasulullah. Tuduhan tashawwuf bersumber dari agama lain merupakan tuduhan keji. Kemiripan tidak berkonsekuensi duplikasi. Tashawwuf dirangkum oleh para ulama sesuai pengalaman spiritual personal dan kapasitas keilmuan yang diturun-temuruni dari guru-gurunya. Tashawwuf adalah praktik keberislaman yang mengaksentuasi (mengarusutamakan) keberpasrahan kepada pengaturan Allah.

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazaliyy menjelaskan,

ثُمَّ اِعْلَمْ أَنَّ التَّصَوُّفَ لَهُ خَصْلَتَانِ: الإِسْتِقَامَةُ مَعَ اللهِ تَعَالَى وَالسُّكُوْنُ عَنِ الخَلْقِ. فَمَنْ اِسْتَقَامَ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَحْسَنَ خُلُقَهُ مَعَ النَّاسِ وَعَامَلَهُمْ بِالحِلْمِ فَهُوَ صُوْفِيٌّ

“Kemudian ketahuilah bahwa Tashawwuf mempunyai dua pilar: istiqamah bersama Allah dan harmonis dengan makhluqnya. Maka barangsiapa yang istiqamah bersama Allah Ta’ala memperbaiki akhlaq bersama manusia, dan berinteraksi dengan mereka dengan santun, maka dia adalah seorang Shufiyy”. [Ayyuha Al-Walad halaman 15]

Imam An-Nawawiyy mengungkapkan,

أصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية، اتباع السنة في الأقوال والأفعال، الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار، الرضى عن الله في القليل والكثير، الرجوع إِلى الله في السراء والضراء

“Pokok pokok metode ajaran Tashawwuf ada lima: Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluq di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka.” [Risalah Al-Maqashid fi At-Tauhid wa Al-’Ibadah wa Ushul At-Tashawwuf 1/20]

Sayyid Murtadha Az-Zabidiyy menyampaikan,

تَطْهِيْرُ الْبَاطِنِ وَالظَّاهِرِ مِنَ الْآثَامِ الخَفِيَّةِ وَالْجَلِيَّةِ مِنْ أَوَائِلِ التَّصَوُّفِ

“Menyucikan batin dan lahir dari dosa-dosa yang tidak jelas dan yang jelas, merupakan awal mula dari Tashawwuf.” [It-haf As-Sadat Al-Muttaqin, [Bairut, Tarikh Al-‘Arabiyy: 1994], juz 8, halaman 477]

Imam Al-Ghazaliyy juga menyebutkan,

فَإِنَّ أَصْلَ طريق الدّينِ القُوْتُ الحلال وعند ذلك يلقنه ذكرا من الأذكار حتى يشغل به لسانه وقلبه فيجلس ويقول مثلا الله الله أو سبحان الله سبحان الله أو ما يراه الشيخ من الكلمات

“Sesungguhnya dasar dari jalan Tashawwuf adalah makanan yang halal, ketika telah terpenuhi, seorang Syaikh hendaknya mengajarkan muridnya salah satu dzikir dari sekian banyak dzikir, sampai lisan dan qalbunya sibuk dengan dzikir tersebut. Semisal seorang murid duduk sambil membaca “Allah… Allah” atau “Subhanallah… Subhanallah” atau kalimat-kalimat dzikir lain sesuai dengan yang diajarkan oleh Syaikh.” [Ihya’ Ulumuddin]

Syaikh ‘Abdurra’uf Al-Munawiyy Asy-Syafi’iyy Al-Khalwatiyy Al-Asy’ariyy menuturkan,

وليس للمسافر إلى الله في سلوكه أنفع من الذكر المفرد القاطع من الأفئدة الأغيار وهو الله وقد ورد في حقيقة الذكر وآثاره وتجلياته ما لا يفهمه إلا أهل الذوق

“Bagi orang yang sedang melakukan perjalanan suluk menuju Allah, tidak ada yang lebih bermanfaat dibandingkan dzikir mufrad yang bisa memutus hubungan dengan makhluq dari dalam qalbu. Dzikir tersebut adalah menyebut “Allah”. Telah dijelaskan, bahwa hakikat dzikir, dampak dan manifestasinya, tidak bisa difahami kecuali oleh orang-orang yang telah merasakannya”. [Faidh Al-Qadir]

Syaikh Ibnu ‘Ajibah mengutarakan,

حُكْمُ الْفِقْهِ عَامٌ لِأَنَّ مَقْصُوْدَهُ إِقَامَةُ رَسْمِ الدِّيْنِ وَرَفْعِ مَنَارِهِ وَإِظْهَارِ كَلِمَاتِهِ وَحُكْمُ التَّصَوُّفِ خَاصٍ لِأَنَّهُ مُعَامَلَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ مِنْ غَيْرِ زَائِدٍ

“Hukum fiqih (syariat) sangat umum, karena tujuannya adalah menampakkan potret agama Islam, mengangkat aturannya, dan menampakkan kalimatnya. Sedangkan ilmu Tashawwuf merupakan ilmu yang khusus, karena sesungguhnya, ia merupakan interaksi antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya tanpa perlu menambah.” 

هو أن يُميتَكَ الحقُّ عنك ويُحيِيْك به. وقال أيضا أن تكون مع الله بلا علاقة 

“Bertashawwuf itu adalah kondisi spiritual di mana engkau benar-benar pasrah bahwa hidup dan matimu berada di bawah kendali Allah. Ia juga mengatakan, ‘Saat engkau hidup bertashawwuf, berarti engkau tengah hidup berdampingan langsung dengan Allah tanpa sekat apapun.’” 

والصوفي الصادق أن يفتقر بعد الغنى ويذل بعد العز ويخفى بعد الشهرة 

“Shufiyy sejati selalu merasa butuh (kepada Allah) walau telah kaya raya, selalu merasa hina kendati telah mendapat kemuliaan, dan selalu merasa terpendam meski telah mendapat popularitas tertinggi.” [Iqazh Al-Himam Syarh Matn Al-Hikam, [Bairut, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah: 2001]]


Redaktur: H. Brilly Y. Will., M.Pd.


082140888638 Buku Ta'liq 'Umdah Al-Ahkam Syaikh Ahmad Mamduh Sa'ad



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.