Header Ads

Proliferasi (Perkembangan) Tashawwuf Sebagai Ilmu dan Amal

Pelantikan JATMAN Idarah Syu'biyyah Bawean 2025


Syaikh At-Taftazaniyy menjelaskan,

رأينا في الفصل السابق اتجاهين متميزين للتصوف عند صوفية القرنين الثالث والرابع، أحدهما سُنّي يَتَقَيَّدُ أصحابه فيه بالكتاب والسنة، ويربطون أحوالهم ومقاماتهم بهما، والآخر شِبْه فلسفي، ينزع أصحابه فيه إلى الشطحات، وينطلقون من حال الفناء إلى إعلان الاتحاد أو الحلول. 

“Kita telah melihat pada bab sebelumnya adanya dua kecenderungan yang berbeda dalam dunia tashawwuf pada kalangan shufiyy abad ketiga dan keempat Hijriah. Pertama, tashawwuf yang bercorak sunni, yaitu tashawwuf yang para pengikutnya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta mengaitkan seluruh keadaan batin (ahwal) dan tingkatan spiritual (maqamat) mereka dengan keduanya. Kedua, tashawwuf yang bersifat semi-filosofis, yaitu tashawwuf yang para penganutnya cenderung melakukan ungkapan-ungkapan syathahat, dan dari keadaan fana  mereka beralih kepada pengakuan tentang penyatuan (ittihad) atau penyusupan Tuhan ke dalam diri makhluk (hulul).” [Al-Madkhal ila At-Tashawwuf Al-Islamiyy, [Kairo Mesir, Dar Ats-Tsaqafah: 1979], halaman 145]


Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-’Ajibah Al-Hasaniyy menjelaskan,

فالشريعة هي : إصلاح الجوارح الظاهرة، وهي تدفح إلى الطريقة التي هي إصلاح السرائر الباطنة، وهي أيضاً تدفح إلى الحقيقة التي هي كشف الحجاب ومشاهدة الأحباب من داخل الحجاب، فالشريعة أن تعيده، والطريقة أن تقصده، والحقيقة أن تشهده

Syari’ah adalah memperbaiki organ-organ tubuh secara lahir dan syariah merupakan jalan menuju thariqah, yang mana thariqah merupakan perjalanan ruhani untuk memperbaiki batiniyyah, dan thariqah merupakan pengantar menuju hakikat yang dapat menyingkap tabir penghalang (kasyf hijab) dan musyahadah (menyaksikan) dengan kekasih. Pendek kata syariah adalah beribadah menghamba kepada-Nya, sedangkan thariqah adalah menjadikan Allah satu-satunya tujuan dan hakikat merupakan kemampuan menyaksikan Allah dengan mata batinnya. [Al-Futuhat Al-Ilahiyyah fi Syarh Al-Mahabits Al-Ashaliyyah]


Syaikh ‘Abdul-Wahhab Asy-Sya’raniyy mengutarakan,

وربما تكلم العارف في نظمه أو غيره على لسان الحق تبارك وتعالى، وربما تكلم على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم، وربما تكلم على لسان القطب. فيظن بعضهم على لسانه هو فيبادر إلى الإنكار 

“Terkadang, ahli makrifat dalam nazham atau bentuk ekspresi lainnya berbicara dengan bahasa ilahi. Terkadang ia berbicara dengan bahasa rasul-Nya. Ia juga terkadang berbicara dengan bahasa wali quthub. Tetapi sebagian orang mengira ahli makrifat itu berbicara dengan bahasanya sendiri sehingga segera mendapat pengingkaran.”

فافهم وربما أنكر العالم على بعض الصوفية في بعض الأوقات رحمة بالعوام والمحجوبين خوفا أن يتبعوه في ذلك الأمر بالجهل فيهلكون لا ردا على ذلك الصوفي بالكلية  

“Ketahuilah, ulama juga terkadang ikut mengingkari bahasa para shufiyy sebagai bentuk kasih sayang terhadap orang awam dan mereka yang terhijab secara spiritual karena khawatir mereka mengikuti kalimat tersebut secara jahil sehingga mereka binasa, bukan karena penolakan secara keseluruhan terhadap kalimat shufiyy tersebut,”

واعلم أن من صفات المحبين أنهم يتكلمون بلسان المحبة والعشق والسكر لا بلسان العلم والعقل والتحقيق 

“Ketahuilah, salah satu sifat muhibbin adalah mereka berbicara dengan bahasa mahabbah, isyq, dan mabuk cinta, bukan bahasa ilmu, akal, dan tahqiq.” [Al-Minan Al-Kubra/Lathaif Al-Minan fi Al-Akhlaq fi Wujub At-Tahadduts bi Nikmatillah ‘ala Al-Ithlaq, [Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah: 2010 M]]


Abu Yazid Al-Bisthamiyy pernah bersya’ir,

أشار سري اليك حتى فنيت عني ودمت أنت 

محوت إسمي ورسم جسي سألت عني فقلت أنت 

Kesadaran batinku menunjuk kepada-Mu. Sehingga Aku menghilang dari diriku, dan hanyalah Engkau yang ada.

Engkau menghapus namaku dan jejak tubuhku. Engkau bertanya tentang diriku, aku jawab: Engkau.

[Syathahat Asy-Shufiyyah li ‘Abdurrahman Badawiyy]


Redaktur: H. Brilly Y. Will., M.Pd.


082140888638 Buku Kompendium Nazham-Matan Fan 'Aqidah



 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.